
Cilacap (14/07) – MAN 3 Cilacap menyelenggarakan Workshop Penguatan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Membangun Ekosistem Madrasah yang Humanis, Kolaboratif, dan Berkelanjutan pada 14–15 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan sebagai upaya memperkuat pemahaman serta implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam proses pembelajaran dan budaya kerja di lingkungan madrasah.
Ketua panitia, Istiqomah, S.Pd. selaku Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, dalam sambutannya menyampaikan bahwa workshop ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kompetensi pendidik sekaligus memperkuat sinergi seluruh warga madrasah dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
“Melalui workshop ini kami berharap kapasitas guru semakin meningkat, baik dalam memahami konsep maupun mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta di ruang-ruang pembelajaran. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu menguatkan sinergi seluruh warga madrasah sehingga tercipta ekosistem pendidikan yang humanis, kolaboratif, dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Dalam arahannya, Kepala MAN 3 Cilacap, Drs. Muntohar, menjelaskan bahwa implementasi Kurikulum Berbasis Cinta harus dimulai dari penghayatan terhadap nilai-nilai Panca Cinta. Menurut beliau, proses belajar tidak hanya bertujuan menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki kecintaan kepada Allah SWT, sesama manusia, diri sendiri, lingkungan, serta bangsa dan negara.
“Belajar harus dilandasi oleh cinta. Cinta kepada Allah SWT sebagai tujuan utama kehidupan, cinta kepada diri sendiri agar terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, cinta kepada sesama untuk menumbuhkan empati dan kepedulian, cinta kepada lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab menjaga ciptaan-Nya, serta cinta kepada bangsa dan negara sebagai wujud pengabdian kepada Indonesia. Dengan nilai-nilai tersebut, insyaallah peserta didik akan memperoleh keselamatan dan keberkahan dunia maupun akhirat,” jelas beliau.
Beliau juga menambahkan bahwa gagasan Kurikulum Berbasis Cinta yang diinisiasi oleh Menteri Agama merupakan sebuah inovasi pendidikan yang harus terus dirawat dan dikembangkan melalui berbagai strategi pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan menyenangkan. Nilai-nilai dasar cinta harus hadir dalam setiap aktivitas pembelajaran sehingga tidak hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar menjadi budaya yang hidup di lingkungan madrasah.
Small is beautiful juga menjadi gagasan utama sebagai usaha madrasah untuk menghadirkan madrasah sebagai sarana pembelajaran yang indah dan penuh cinta walaupun tempatnya tidak terlalu besar.
Workshop tersebut turut menghadirkan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cilacap H. Azis Muslim, M.Pd.I sebagai narasumber. Dalam materinya yang bertajuk “The Power of Love”, beliau mengajak seluruh pendidik untuk menjadikan cinta sebagai fondasi utama dalam membangun madrasah yang unggul dan bermartabat.

Beliau menegaskan bahwa hakikat pendidikan bukan hanya mencerdaskan intelektual peserta didik, tetapi juga membangun karakter dan kemanusiaan.
“Ilmu tanpa cinta akan menjadi kering, kehilangan makna, bahkan dapat membawa kerusakan. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu menghadirkan kasih sayang, keteladanan, dan kepedulian agar ilmu yang diberikan menjadi berkah bagi kehidupan,” tuturnya.
Lebih lanjut, beliau menyoroti tantangan pendidikan di era disruptif yang ditandai dengan perubahan yang berlangsung sangat cepat. Kondisi tersebut menuntut guru untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi. Menurutnya, digitalisasi ibarat dua mata pisau yang di satu sisi memberikan kemudahan akses informasi dan memperluas ruang belajar, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan berupa degradasi moral dan lunturnya nilai-nilai kemanusiaan apabila tidak disikapi secara bijaksana.
Sebagai penguat, beliau menekankan pentingnya menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan madrasah. Pancasila tidak cukup dipahami sebagai konsep, tetapi harus menjadi kebiasaan (habit) yang tercermin dalam sikap, perilaku, dan budaya warga madrasah. Dengan demikian, akan lahir generasi yang berkarakter sekaligus mampu mewujudkan madrasah yang hebat, bermutu, dan dicintai masyarakat.
Melalui workshop ini, MAN 3 Cilacap semakin meneguhkan komitmennya untuk mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai fondasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang humanis, kolaboratif, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta berkelanjutan. Diharapkan seluruh guru mampu menerjemahkan nilai-nilai cinta ke dalam setiap proses pembelajaran sehingga peserta didik tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga memiliki karakter mulia, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap agama, bangsa, serta lingkungan.
Oleh TIM IT MAN 3 Cilacap
